oleh

3 Tahun Tunjangan Tak Dibayar, Guru SMP POM Kepulauan Yapen Mogok

JAYAPURA (PTIMES)- Proses belajar mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Satu Atap POM I Distrik Pom Yapen Utara Kabupaten Kepulauan Yapen Provinsi Papua sudah sebulan macet. Para guru di SMP tersebut mogok lantaran tunjangan khusus bagi mereka sudah 3 tahun tidak dibayar pemerintah.

Tidak Aktivitas di Sekolah, Murid-murid Tinggal di Rumah dan Membantu Orang Tua Memangkur Sagu di Dusun.

“Benar, guru-guru di SMP Satu Atap mogok mengajar. Sudah tiga minggu mogok karena tunjangan khusus yang menjadi hak mereka selama tiga tahun tidak dibayar pemerintah,”ungkap Timothius Berotabui,S.Pd, Kepala SMP Negeri Satu Atap Pom I saat dikonfirmasi, Jumat siang (18/10/2019).

Berotabui menjelaskan bahwa tunjangan khusus yang dibayar per triwulan tersebut diperuntukan bagi guru-guru yang mengabdi di daerah tertinggal untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, karena guru memiliki tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Tunjangan khusus ini tidak dibayar mulai tahun 2016 hingga kini. Padahal sebelumnya dibayarkan tepat waktu dan langsung masuk ke rekening masing-masing guru,”kata Timothius.

Mengenai besaran tunjangan yang seharusnya diterima para guru, Timo mengaku jumlahnya berbeda sesuai dengan golongan dan pangkat dari para guru. Dia mencontohkan, dirinya per triwulan dibayar Rp 9 juta. “Kalau besaran tunjangan disesuaikan dengan golongan dan pangkat dari guru-guru,”ujarnya.

Menurutnya, masalah ini sudah dilaporkan langsung ke Bupati Kepulauan Yapen Tonny Tesar, S.Sos dan ke pimpinan Dinas Pendidikan dan Pengajaran namun sampai kini, tidak ada respon dari bupati maupun dinas terkait.

“Secara tertulis, laporan kita sudah sampaikan kepada Bupati Kepulauan Yapen dan juga sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Pengajaran Yapen, namun tidak ada respond an realiasasi, makanya hasil rapat bersama dengan guru, aksi mogok dilanjutkan tanpa batas yang ditentukan,”kata Timo Berotabui.

Akibat aksi mogok ini menyebabkan 130 pelajar di SMP ini tidak bersekolah dan terancam tidak mengikuti ujian. Para pelajar terpaksa tinggal dirumah dan sehari-hari mengikuti orang tua berkebun dan memangkur sagu di dusun milik orang tua dan warga setempat.

Editor: HANS B/OKA KADI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed