BERITA UTAMA

Perpusnas Susun Road Map Pembangunan Perpustakaan Papua Pegunungan Hingga 2035

60

WAMENA | Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menargetkan peta jalan (road map) pembangunan perpustakaan dan literasi di Provinsi Papua Pegunungan untuk periode 2026-2035, segera disusun.

Hal itu dikemukakan Edi Wiyono, S.Sos., M.Tr.A.P Kepala Biro Perencanaandan Keuangan Perpustakaan Nasional saat sesi pemaparan pada Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Tenaga Perpustakaan dan Pustakawan, 7- 8 September 2026 di Wamena.

Peta jalan tersebut membagi pembangunan dalam tiga tahap dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik geografis dataran tinggi dan status Papua Pegunungan sebagai Daerah Otonom Baru (DOB).

Tahap I (2026-2028) difokuskan pada Pondasi dan Akses Dasar. Pada tahap ini, Perpusnas mendorong penataan regulasi dan kesiapan infrastruktur awal, meliputi pengesahan Pergub Penyelenggaraan Perpustakaan, sensus mandiri dan pelatihan vokasi pengelola di 8 kabupaten, serta inovasi infrastruktur berupa Micro-Server Library atau perpustakaan digital luring tanpa internet.

Distribusi buku cetak adaptif juga akan dilakukan dengan penyesuaian tema pertanian, numerasi, dan kesehatan keluarga. Indikator kunci 2028 ditargetkan gedung perpustakaan provinsi definitif beroperasi penuh, 40 persen perpustakaan sekolah terdata resmi memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP), serta Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masuk data nasional.

Tahap II (2029-2031) adalah fase Ekspansi dan Inklusi dengan jangkauan distrik dan pemberdayaan ekonomi lokal. Program unggulan pada tahap ini adalah Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) dengan pemberdayaan potensi unggulan lokal seperti Kopi Arabika, Lebah Madu, Ubi Jalar Hipere, Dan Kerajinan Noken.

Untuk mengatasi keterisoliran wilayah, Perpusnas merancang program Distribusi Terpencil melalui Pustaka Udara (Perintis), yakni pengiriman book boxes melalui pesawat misionaris, serta Solar-Powered Pods atau pojok baca digital bertenaga surya.

Target 2031, TGM meningkat 15 persen, terbentuk 40 titik layanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) aktif di tingkat kampung/distrik, dan minimal 24 perpustakaan sekolah dan kabupaten terakreditasi B/C.

Tahap III (2032-2035) difokuskan pada Kemandirian dan Budaya dengan integrasi nasional dan pelestarian adat Lapago. Programnya meliputi Pusat Deposit Budaya melalui Pusat Dokumentasi Budaya Adat Lapago untuk kodifikasi sastra lisan, cerita rakyat, dan silsilah klan, serta penerbitan buku bacaan anak dwibahasa daerah dan Indonesia.

Pada tahap akhir, katalog perpustakaan Papua Pegunungan ditargetkan terhubung langsung ke jejaring Indonesia OneSearch (IOS) Perpusnas RI. Indikator Kunci 2035 adalah 80 persen sekolah ber-NPP dan memenuhi Standar Nasional Perpustakaan (SNP), serta indeks literasi setara rata-rata kawasan Timur Indonesia.

Eddy menegaskan adanya tiga tantangan utama DOB Papua Pegunungan. Pertama, Infrastruktur Fisik dan Logistik dengan biaya kemahalan konstruksi dan distribusi bahan bacaan yang ekstrem.

Kedua, Infrastruktur Digital dan Edukasi dengan keterbatasan konektivitas digital yang absolut, sehingga program digitalisasi tidak dapat disamakan dengan wilayah Barat yang berbasis online.

Untuk itu, Perpusnas mendorong pendekatan Offline Digital Library melalui penyediaan server data lokal yang ditempatkan secara fisik di sekolah atau distrik.

Ketiga, Infrastruktur Institusi dan SDM, di mana ekosistem kelembagaan provinsi termuda masih dalam tahap awal transisi. Solusinya adalah akselerasi sertifikasi pustakawan, pendataan NPP, dan pengesahan regulasi daerah tingkat provinsi.

Dokumen tersebut juga menekankan urgensi akreditasi perpustakaan di Papua Pegunungan. Akreditasi disebut bukan sekadar sertifikat di atas kertas, melainkan fondasi legitimasi, pintu akses fiskal, dan penjaga mutu layanan.

Perpustakaan yang terakreditasi menjadi syarat mutlak Readiness Criteria dalam aplikasi KRISNA DAK untuk mengakses Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik dan Bantuan Pusat, serta menjadi dasar hukum formasi ASN Jabatan Fungsional Pustakawan.

Sesuai Peta Jalan tersebut, Perpusnas mengusung transformasi 3 pilar: perpustakaan sebagai Pusat Belajar Aktif, Inkubator Keterampilan Sosial, dan Penjaga Identitas Budaya Lokal melalui literasi berbasis kearifan lokal pegunungan dan fokus edukasi usia dini pada tingkat PAUD dan SD kelas awal.

Editor | TIM REDAKSI | SMSI NETWORK

Exit mobile version