WAMENA | Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) menegaskan penguatan kompetensi pustakawan sebagai kunci peningkatan layanan perpustakaan di wilayah pegunungan.
Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Fungsional (JF) Pustakawan kini dihitung berdasarkan beban kerja yang meliputi jumlah koleksi dan produk pengetahuan, jenis layanan, jumlah dan karakteristik pemustaka, serta jumlah tenaga dan perpustakaan yang dibina.
Hal itu disampaikan Kepala Pusat Pembinaan Pustakawan (Pusbin Pustakawan) Perpusnas RI, Agus Sutoyo pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Tenaga Perpustakaan dan Pustakawan, 7-8 September 2026 di Wamena.
Perpusnas mencatat adanya pembaruan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Perpustakaan. Terdapat 7 fungsi kunci dan ruang lingkup JF Pustakawan, meliputi pengembangan koleksi, pengorganisasian bahan perpustakaan, layanan perpustakaan, pelestarian koleksi, pengembangan ekosistem kepustakawanan, manajemen perpustakaan, serta penerapan teknologi informasi dan komunikasi.
Bersamaan dengan itu, mekanisme uji kompetensi juga diperbarui. Materi uji kompetensi harus memenuhi nilai paling rendah 60 untuk JF Asisten Perpustakaan, Pustakawan Ahli Pertama, Ahli Muda, dan Ahli Madya, serta 65 untuk Pustakawan Ahli Utama.
Agus menjelaskan metode penilaian dilakukan melalui empat jalur, yakni portofolio berupa rekam jejak pengalaman, proyek literasi dan karya tulis, tes tulis dengan 300 soal, serta wawancara Self Assessment dan Critical Incident (SA-CI) untuk mengelaborasi kemampuan dan pengalaman.
Sertifikasi kompetensi adalah proses penilaian sistematis dan objektif melalui asesmen yang mengacu pada standar kompetensi yang diakui sebagai acuan profesi pustakawan.
Sertifikasi dibutuhkan untuk empat alasan utama: menyiapkan tenaga kerja berdaya saing di era pasar bebas, memenuhi tuntutan undang-undang dan peraturan, adanya kriteria profesionalisme, serta paradigma baru pengembangan tenaga kerja berbasis kebutuhan pengguna dan diklat berbasis Computer Based Test (CBT).
Menurutnya, sertifikasi membantu meyakinkan pemangku kepentingan bahwa layanan dilakukan tenaga kompeten, memastikan rekrutmen pustakawan yang kompeten, meningkatkan produktivitas, serta menjawab tuntutan layanan prima. Sertifikasi juga membantu pimpinan dalam sistem pengembangan karir dan remunerasi berbasis kompetensi serta efisiensi pengembangan SDM.
Sementara bagi pustakawan, sertifikasi berfungsi meyakinkan pemustaka atas kompetensinya, mengetahui kekuatan dan kekurangan diri, menumbuhkan kepercayaan diri untuk terus belajar, mempromosikan profesi di pasar tenaga kerja, membantu pengakuan kompetensi lintas sektor dan lintas negara, serta memelihara kompetensi yang dimiliki.
Agus juga menekankan pentingnya adaptasi pustakawan terhadap kecerdasan buatan (AI). AI dinilai penting karena revolusi digital telah mengubah cara akses informasi secara total, memungkinkan otomasi proses katalogisasi dan pencarian, meningkatkan efisiensi layanan, serta membuka peluang baru sebagai kurator informasi berbasis AI.
Sejumlah contoh penerapan AI yang dapat digunakan pustakawan di antaranya: Katalogisasi menggunakan ChatGPT/Gemini untuk membuat abstrak dan deskripsi katalog otomatis; Promosi menggunakan Canva AI/Gamma untuk poster dan infografis literasi; Referensi menggunakan Google NotebookLM untuk merangkum jurnal panjang; Layanan tanya jawab 24 jam dengan Chatbot Tidio/Tawk; Pembuatan jingle perpustakaan menggunakan Suno AI; Evaluasi kepuasan pemustaka melalui Google Forms + Gemini dengan analisis sentimen; serta penelusuran informasi ilmiah dengan Perplexity AI.
Sebagai contoh implementasi, Pusbin Pustakawan bahkan membuat jingle “Papua Pegunungan, Semangat Berliterasi” dengan bantuan Suno AI.
“Pustakawan harus diakui kompetensinya dan adaptif terhadap tantangan masa depan, termasuk adaptasi terhadap kecerdasan buatan,” kata Agus dalam penutup materinya.
Kegiatan Bimtek ini diharapkan menjadi fondasi penguatan tata kelola SDM perpustakaan yang digital dan terintegrasi dalam mendukung Satu Data Nasional di Provinsi Papua Pegunungan.
Editor | TIM REDAKSI | SMSI NETWORK
