BERITA UTAMA

Perancis Makin Necis

94

ABRAHAM HIROHITO | BOLA DUNIA

Malam itu, Stadion AT&T terdengar seperti dua lagu yang diputar bersamaan. Satu lagu Perancis: tenang, rapi dan necis mengalun seperti jazz di kafe Paris. Sedangkan lagu Maroko, cepat, berisik, penuh degup seperti kendang di pasar Marrakesh.

Skor akhirnya 2-0. Tapi cerita di baliknya jauh lebih panjang dari 90 menit.

Perancis main seperti sedang Tunggu kereta TGV. Tidak buru-buru. Oper sana, oper sini. Griezmann jadi kondektur. Kante versi baru, Tchouameni, jadi mesin. Maroko lari, Perancis jalan. Tapi yang jalan itu yang sampai duluan.

Menit 27, wasit menunjuk titik putih. Kylian Mbappe santai tapi tegang. Di belakangnya, 69 ribu pasang mata. Di depannya, Yassine Bounou yang senyum tipis.

Eksekusi. Bounou ke kanan. Bola ditangkap. Dua tangan. Bersih. Stadion yang 80 persen biru, mendadak bisu. Yang terdengar cuma teriakan Bounou: “Allez!”
Mbappe menunduk. Soundtrack-nya bukan gol. Soundtrack-nya Bounou.

Namun ia membalasnya di menit 59 babak kedua, Mbappe cetak gol lewat tendangan terbaiknya.

Anak-anak Maroko bermain seperti gelombang tsunami. Brahim Diaz menari di antara kaki-kaki Perancis. Tapi tarian itu kandas di Upamecano. Amrabat berlari seperti tak punya paru-paru.

Ounahi meliuk seperti ular di pasar Jemaa el-Fna. Hakimi naik-turun sampai kaus basah kuyup. Peluang ada. Sundulan En-Nesyri melenceng. Tendangan Ziyech ditepis Maignan.

Tapi Perancis punya sesuatu, yang Maroko belum punya; pengalaman jadi kejam di momen yang tepat. Menit 79. Theo kirim umpan. Giroud terbang. 2-0.

Di bench, Deschamps bahkan tidak selebrasi berlebihan. Cuma catat sesuatu di kertas kecil. Seperti dosen yang baru kasih nilai A ke mahasiswa.

Peluit bunyi. Mbappe langsung peluk Hakimi. Teman di PSG, lawan di Piala Dunia. Hakimi senyum, tapi mata berkaca. “Next time, bro,” kata Mbappe. Hakimi angguk.

Di tengah lapangan, Bounou berlutut. Bukan kecewa. Kayak bilang terima kasih ke rumput Dallas yang sudah kasih panggung. Regragui kumpulkan semua pemain. Lingkaran.

“Kalian singa. Singa boleh kalah, tapi tidak boleh merunduk.”

Maroko pulang bawa sesuatu yang tidak bisa diangkut koper: respek. Dua Piala Dunia beruntun mereka bikin repot tim raksasa. Dari Belgia, Spanyol, Portugal, sampai sekarang bikin Perancis kerja keras.

Perancis? Mereka melenggang. Tidak spektakuler, tapi tidak bisa dibantah. Menara Eiffel memang dibangun untuk tahan badai. Dan malam itu, badai dari Atlas tidak cukup kencang.

Prancis mengalahkan Maroko pada babak perempat final Piala Dunia 2026 dengan skor akhir 2-0. Gol diciptakan Kylian Mbappe dan Désiré Doué berhasil membawa Les Bleus ke babak semifinal.

Perancis bertemu Spanyol, semifinal ini akan menjadi bentrokan taktis paling ideal di Eropa. Spanyol unggul dalam penguasaan bola, namun kecepatan serangan balik transisi Perancis terbukti menjadi senjata paling mematikan untuk membongkar garis pertahanan tinggi La Roja.

Di atas kertas Perancis masih unggul tipis dibandingkan Spanyol.

Selamat Menonton Semi Final, disiarkan langsung televisi pemersatu bangsa, TVRI Noken Kita Bersama.*

Exit mobile version