BERITA UTAMA

16 Tahun Matador Bangkit Dari Kubur

70

ABRAHAM HIROHITO | BOLA DUNIA

“16 tahun itu bukan angka. Itu anak yang dulu digendong bapaknya nonton 2010, sekarang gantian gendong bapaknya yang udah sepuh. Ini bukan cuma bola. Ini utang sejarah yang akhirnya dibayar,” Luis, fans Spanyol dari Barcelona, 34 tahun.

Penantiannya 16 tahun akhirnya tuntas. La Furia Roja resmi kembali ke semifinal Piala Dunia setelah membungkam Belgia 2-1 dalam laga perempat final dramatis di Los Angeles Stadium, Sabtu (11/7/2026) dini hari WIB.

Kemenangan ini bukan sekadar tiket ke empat besar. Ini adalah pernyataan bahwa generasi baru Spanyol sudah siap mengulang kejayaan 2010.

Sejak menit awal, Spanyol tampil dengan DNA klasik mereka: penguasaan bola dan aliran cepat. Rodri-Fabian Ruiz mengunci lini tengah, sementara Lamine Yamal dan Dani Olmo terus mengancam dari sayap.

Gol pertama lahir menit 30. Tusukan Pedro Porro dari kiri diakhiri umpan ke kotak penalti. Tembakan Dani Olmo sempat ditepis kiper, tapi bola liar langsung disambar Fabian Ruiz. 1-0 untuk Spanyol.

Belgia yang bertahan rapat tak panik. Menit 41, skema serangan kiri berbuah manis. Umpan Timothy Castagne ditanduk sempurna Charles De Ketelaere meski dikawal ketat. 1-1, skor imbang bertahan hingga turun minum.

Babak kedua jadi ujian kesabaran. Luis de la Fuente memasukkan Pedri, Nico Williams, Mikel Merino, dan Ferran Torres. Belgia merespons dengan Lukaku dan Witsel. Tembok pertahanan Belgia kokoh hingga menit 80, membuat serangan Spanyol terlihat monoton.

Drama terjadi menit 88. Bek muda Pau Cubarsi maju membantu serangan dan melepas tembakan. Kiper pengganti Senne Lammens menepis, tapi bola muntah jatuh ke kaki Mikel Merino. Tanpa ampun, gelandang Real Sociedad itu mengoyak gawang. 2-1, Los Angeles Stadium meledak.

Kali terakhir Spanyol ke semifinal adalah 2010 di Afrika Selatan — tahun mereka juara dunia. Setelah itu: tersingkir di grup 2014, 16 besar 2018, 16 besar 2022.

Kini, dengan skuad yang memadukan pengalaman Rodri dan darah muda Yamal, Cubarsi, serta Pedri, Spanyol terlihat lapar lagi.

“Ini momen yang sangat spesial dan luar biasa,” kata Fabian Ruiz usai laga. “Dukungan keluarga dan seluruh warga Spanyol terasa sampai ke lapangan.”

Di semifinal, ujian sesungguhnya menanti. Rabu, 15 Juli 2026 pukul 02.00 WITA, Spanyol akan bentrok dengan Prancis di Stadion AT&T, Texas.

Ini duel dua filosofi kontras: Prancis tampil efisiensi Mematikan dengan ciri disiplin bertahan, transisi kilat. Tak masalah tanpa bola, asal bisa menghukum lewat Kylian Mbappé ada pula Dembele-Rabiot sebagai creator.

Sedangkan Spanyol selalu saja tampil dominasi kolektif. Dengan positional play, penguasaan bola terstruktur. Pedri-Lamine Yamal jadi otak serangan.

Pertarungan sayap akan menentukan. Ousmane Dembele dengan penetrasi dan kecepatannya ditugaskan memanjakan Mbappé. Di sisi lain, gocekan dan kelincahan Lamine Yamal, 19 tahun, bisa menghancurkan struktur jika Prancis lengah.

Banyak pengamat menilai laga ini bukan soal siapa lebih dominan, tapi siapa lebih klinis. Prancis diprediksi akan memancing Spanyol naik, lalu menyerang balik.

Secara statistik, Prancis lebih solid. Namun Spanyol punya momentum dan semangat 2010 yang hidup kembali. Satu yang pasti: Dallas akan jadi panggung taktik tingkat tinggi antara Deschamps dan De la Fuente.

Apakah kutukan 16 tahun akan berujung final? Atau Mbappé yang memupus mimpi El Matador? Jawabannya Rabu dini hari nanti.

Selamat menonton siaran langsung TVRI-Noken Kita Bersama.*

Exit mobile version