BERITA UTAMA

Museum Asmat Jadi Wajah Diplomasi Kebudayaan Papua

48
×

Museum Asmat Jadi Wajah Diplomasi Kebudayaan Papua

Sebarkan artikel ini

ASMAT – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendorong Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, menjadi ruang pelestarian sekaligus promosi budaya yang dapat berfungsi sebagai wajah diplomasi kebudayaan Papua ke dunia.

Dalam kunjungan kerja, Wapres menelusuri berbagai ruang pameran dan koleksi seni ukir Asmat yang merupakan warisan budaya masyarakat setempat.

Direktur Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, John Ohoiwirin, menyampaikan bahwa Wapres menunjukkan antusiasme tinggi selama peninjauan. Bahkan setelah menuliskan kesan dan pesan, Wapres kembali memasuki ruang pameran untuk mendalami cerita di balik karya-karya seni Asmat.

“Beliau tampak sangat bersemangat mengunjungi museum. Selama perjalanan di ruang pameran, terlihat sekali ketertarikan beliau terhadap seni Asmat. Banyak pertanyaan beliau ajukan mengenai koleksi yang ada,” ujar John.

Menurut John, ketertarikan Wapres semakin terlihat saat mendengarkan penjelasan mengenai filosofi dan nilai budaya yang terkandung dalam ukiran Asmat.

“Beliau bertanya banyak hal, misalnya tentang ritual adopsi yang tergambar dalam ukiran. Itu menunjukkan perhatian beliau terhadap hakikat budaya orang Asmat,” tambahnya.

John menegaskan, museum berperan sebagai sarana diplomasi kebudayaan Papua yang memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya Asmat kepada masyarakat luas.

“Bapak Wapres mendorong kami untuk terus mengembangkan museum ini agar menjadi kekuatan dan kebanggaan masyarakat Asmat,” katanya.

Usai mengunjungi museum, Wapres meninjau progres pembangunan Gereja Katedral Salib Suci Baru di Agats, Kabupaten Asmat.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres menanam pohon cemara sebagai simbol harapan dan keberlanjutan pembangunan rumah ibadah umat Katolik di Asmat.

Ketua Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agats, Vallens Aji Sayekti, menjelaskan bahwa struktur utama gereja telah rampung dan kini memasuki tahap penyelesaian atap serta pengerjaan interior menggunakan kayu lokal khas Asmat.

“Proses pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat setempat. Sebanyak 35 pekerja mengerjakan struktur bangunan, sementara 16 lainnya fokus pada interior,” ujarnya.

Aji menambahkan, pembangunan katedral didukung oleh donatur, pemerintah daerah, sumbangan sukarela aparatur sipil negara beragama Katolik, serta partisipasi umat. Namun, masih terdapat kekurangan anggaran untuk menyelesaikan seluruh pembangunan.

Dalam rangkaian kunjungan di Kabupaten Asmat, Wapres juga meninjau Sekolah Lapang Sagu yang dikembangkan melalui kerja sama Keuskupan dan pemerintah daerah. Sekolah ini menjadi pusat pembelajaran dan pengolahan produk turunan sagu berbasis budaya lokal, sekaligus mendukung hilirisasi komoditas unggulan Papua.

Kunjungan Wapres menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung pelestarian budaya lokal sebagai bagian penting pembangunan nasional, serta memperkuat posisi Papua sebagai pusat kekayaan budaya Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Turut mendampingi Wapres dalam peninjauan, Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo, Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo, dan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama Gus Miftah.

Editor | TIM REDAKSI | PAPUA TIMES

Comment

error: COPYRIGHT © PAPUA TIMES 2023 | KARYA JURNALISTIK DILINDUNGI UNDANG-UNDANG