BMKG: Teknologi Modifikasi Cuaca Belum Disarankan di Papua Selatan

MERAUKE | PAPUA TIMES- Badan Meteorologi Klimatologi, Geofisika (BMKG) menyatakan penggunaan Tekhnologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Provinsi Papua Selatan belum disarankan untuk digunakan dikarenakan, daerah tersebut telah memasuki musim kemarau.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Merauke, Marsildus E. Keytimu mengatakan TMC digunakan untuk meningkatkan intensitas curah hujan di suatu tempat (rain enhancement) atau dapat juga digunakan untuk kondisi sebaliknya (rain reduction).

SIAPA CALON GUBERNUR PAPUA 2024-2029, PILIHAN ANDA
  • Add your answer
Poll Options are limited because JavaScript is disabled in your browser.

“TMC dilakukan sebelum terjadinya awal musim kemarau di saat masih ada potensi pertumbuhan awan hujan, karena kalau dilakukan saat musim kemarau maka peluang untuk potensi hujan sangat kecil karena bibit awan tidak terbentuk,”jelas Marsildus E. Keytimu, di Merauke.

BMKG Mopah Merauke, lanjutnya, sudah merilis prakiraan awal musim hujan yang akan terjadi di November dasarian 1.

“Kita masih ada persiapan satu bulan untuk memasuki awal musim hujan. Kalau mau dibilang membuat TMC di persiapan satu bulan ini akan sangat sulit karena masih dalam posisi musim kemarau. Jadi TMC itu tidak bisa dilakukan pada saat musim kemarau dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” sambungnya.

Menurutnya, TMC biasanya dilakukan atas kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan BMKGdan Badan Pengendaliana Bencana Daerah (BPBD). Namun, untuk di wilayah Papua Selatan belum disarankan oleh BMKG setempat.

BMKG sebagai tim yang mendukung untuk melihat wilayah mana saja yang masih berpotensi terjadi hujan. Di musim kemarau seperti sekarang ini, BMKG tidak menyarankan untuk melakukan TMC atau awan buatan untuk mengumpan turunnya hujan.

EDITOR | AGUS KOWO | RUDIS