Karantina Merauke Amankan Burung Endemik

MERAUKE | PAPUA TIMES – Petugas Karantina Pertanian Merauke menahan dua ekor burung Nuri asal Kabupaten Asmat saat kedatangan Kapal KM. Sirimau di Pelabuhan Merauke, Sabtu (9/9/2023).

Setibanya kapal pada jam 05.30 WIT di pelabuhan, terpantau barang mencurigakan dan ternyata ada dua kardus berisikan burung Nuri yang merupakan endemik yang harus dilindungi.

SIAPA CALON GUBERNUR PAPUA 2024-2029, PILIHAN ANDA
  • Add your answer
Poll Options are limited because JavaScript is disabled in your browser.

“Kami menahan dari pemiliknya sebagaimana tupoksi Karantina Pertanian adalah mengawasi barang bawaan penumpang dan tentengan yang berpotensi membawa komoditas pertanian tumbuhan maupun hewan,” ungkap Perwakilan Karantina Pertanian Merauke,Anastasia Diva Putri, saat melakukan pengawasan.

Sayangnya, ketika ditanyai kelengkapan dokumen Karantina, dua pemilik tidak dapat menunjukkan. Mereka kemudian dibawa ke Kantor Pelayanan Karantina Wilayah Kerja untuk dimintai keterangan lebih lanjut. “Karena tanpa dokumen penyerta, maka dua burung itu dibawa ke kandang penahanan.”

Kepala Karantina Pertanian Merauke Cahyono mengatakan turut prihatin akan kesadaran masyarakat yang dinilai masih kurang dalam melindungi hewan endemik tersebut. Masih saja dijumpai ada yang tidak patuhi larangan pemerintah.

“Burung-burung tersebut tinggalnya di alam dan bukan untuk dipelihara. Mari kita jaga bersama satwa-satwa endemik Papua demi menjaga ekosistem alam,” ajak Cahyono.

Waspada Cacar Monyet

Sementara itu, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Merauke, Papua Selatan akan melalukan investigasi terhadap informasi penyakit cacar monyet yang dikabarkan menyerang warga negara PNG.

Berdasarkan informasi dari penduduk Kabupaten Boven Digoel, bahwa di wilayah Boven beberapa warga mulai terserang penyakit kulit seperti cacar monyet yang sulit disembuhkan dan diduga penyakit itu berasal dari PNG.

“Kami segera melakukan investigasi terkait informasi ini dan kami akan tingkatkan kesiagaan di daerah perbatasan di Sota. Namun yang dikhawatirkan jika warga negara PNG masuk ke Indonesia melalui jalan tikus yang tidak terpantau petugas. Dan sejauh ini, setiap warga yang diperiksa masih pada keluhan ringan seperti batuk, atau panas belum ada wabah tersebut,” pungkas Kepala KKP Merauke, Syarif, SH, M.Si di Merauke.

Selain itu, KKP sendiri belum ada alarm dari Kementerian Kesehatan jika ada potensi wabah dari negara tetangga. Namun, informasi tidak harus menunggu dari tingkat atas, kalau ada informasi wabah dari masyarakat maka KKP tetap siap 24 jam tanpa menunggu komando dari atas.

“Sesuai tupoksi kami KKP yaitu mencegah masuk keluarnya penyakit karantina dan penyakit potensial wabah melalui suatu tindakan. Petugas kami ada di perbatasan negara yang tugasnya melakukan pemeriksaan suhu, fisik dan wawancara kesehatan kepada setiap penduduk maupun orang asing yang masuk di wilayah Indonesia. Sejauh ini belum ditemukan wabah yang membahayakan seperti cacar monyet, kalaupun ditemukan akan dilakukan tindakan khusus,” tutur Syarif.

Pewarta | RUDIS