Angka Kemiskinan di Merauke Capai 23 Ribu

MERAUKE | PAPUA TIMES- Badan Pusat Statistik (BPS) Merauke menyebutkan angka kemiskinan di Kabupaten Merauke pada tahun 2023 mencapai 23 ribu. Kenaikan seiring pertumbuhan penduduk di daerah itu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Merauke, Cendana Murti menjelaskan bila dibandingkan tahun 2022, presentase angka kemiskinan di Kabupaten Merauke menurun namun tidak signifikan.
“Itu sesuai survei sampel sosial ekonomi nasional dengan menanyakan konsumi dan non konsumsi masyarakat. Sekarang angka kemiskinan Merauke sekitar 23.000,” terang Cendana kepada pers di Hotel Halogen, Merauke, Kamis (7/9/2023).

SIAPA CALON GUBERNUR PAPUA 2024-2029, PILIHAN ANDA
  • Add your answer
Poll Options are limited because JavaScript is disabled in your browser.

Angka kemiskinan tersebut didapat dari hasil survei, sementara fakta di lapangan masih banyak masyarakat yang ekonomi lemah dan tergolong miskin. Data ini sangat berpengaruh pada kucuran dana maupun bantuan dari pemerintah pusat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Merauke, Cendana Murti

Kepala BPS menambahkan, untuk memperoleh data valid soal kemiskinan perlu dilakukan sensus penduduk. Registrasi Sosial Ekonomi (REGSOSEK) tahun 2022 telah dilakukan oleh para petugas melalui cara door to door dengan melakukan interview kepada responden by name by address.

Namun data tersebut belum dipublish oleh Bappenas. Dimungkinkan data REGSOSEK 2022 tersebut ada peningkatan angka kemiskinan lebih dari 23.000.

Inflasi Merauke

BPS juga merilis perkembangan indeks harga konsumen Agustus 2023, dimana Kabupaten Merauke terjadi inflasi sebesar 5,91 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,88.

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 13,31persen, Kelompok Transportasi sebesar 9,14 persen, kelompok kesehatan sebesar 8.6 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8.45 persen, kelompok Makanan, Minuman, dan tembakau sebesar 8,01 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 5,91 persen

Kemudian kelompok Pendidikan sebesar 4,69 persen, kelompok Perlengkapan, Peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,95 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,43 persen, kelompok perumahan, air, lstrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,32 persen.

Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi, yaitu: Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,49 persen.

Pewarta | RUDIS