BERITA UTAMA

Papua Masih Dikurung Panas dan Asap

66
×

Papua Masih Dikurung Panas dan Asap

Sebarkan artikel ini

Elnino Masih Sangat Kuat, IOD Positif

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berpotensi mengganggu operasional penerbangan.

JAKARTA | Sebagaian wilayah di Tanah Papua masih dikurung cuaca panas dan kering disertai sebaran asap. Minimnya tutupan awan akibat pengaruh El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi ini berlangsung pada periode 20-26 Oktober 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), merilis prakiraan cuaca sepekan periode 20–26 Oktober 2026. Secara umum Indonesia masih didominasi cuaca panas dan kering, namun peluang hujan lokal tetap ada akibat dinamika atmosfer regional.

Berkurangnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan di sejumlah daerah meningkatkan pemanasan permukaan pada siang hari serta mempercepat pengeringan vegetasi, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi kering ini diperparah dengan peningkatan titik panas (hotspot). selama periode 16–19 Oktober 2026 menunjukkan jumlah yang fluktuatif dengan kecenderungan meningkat, terutama di Kalimantan.

Berdasarkan pemantauan 19 Oktober 2026, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah melonjak dari 157 menjadi 937 titik, Kalimantan Barat dari 31 menjadi 231 titik, dan Sumatera Selatan dari 19 menjadi 66 titik dibandingkan hari sebelumnya.

Peningkatan jumlah hotspot tersebut juga berlangsung bersamaan dengan terdeteksinya sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Perkembangan ini menunjukkan perlunya kewaspadaan ekstra terhadap karhutla, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

“Berdasarkan pemantauan 19 Oktober 2026, jumlah hotspot melonjak signifikan secara nasional. Di Kalimantan Tengah dari 157 menjadi 937 titik, Kalimantan Barat dari 31 menjadi 231 titik, Sumatera Selatan dari 19 menjadi 66 titik, dan Jawa Timur dari 10 menjadi 36 titik. Peningkatan tersebut berlangsung bersamaan dengan terdeteksinya sebaran asap di sejumlah wilayah termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua,”tulis BMKG.

Berdasarkan prakiraan curah hujan pada periode dasarian III Oktober hingga dasarian II November 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah (0–150 mm/dasarian).

Kondisi relatif kering masih berpotensi berlangsung, terutama di sebagian Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan.

Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan fenomena El Niño dan Dipole Mode Index (DMI) positif yang secara umum cenderung mengurangi aktivitas konvektif di Indonesia. Meski demikian, kondisi tersebut tidak meniadakan peluang terjadinya hujan secara lokal akibat pengaruh dinamika atmosfer regional dan lokal.

Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif pada 20–21 Oktober 2026 di sekitar Aceh, Kalimantan bagian utara, dan perairan utara Papua.

Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di Samudra Hindia sebelah barat Aceh dan Laut Andaman, sedangkan Gelombang Kelvin diprakirakan aktif di sebagian Sumatera bagian selatan, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Aktivitas gelombang atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah yang didukung oleh kondisi atmosfer yang labil dan pemusatan massa udara, meskipun secara umum curah hujan masih diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah.

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Barat, Kep. Riau, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Aceh dan Sumatera Utara.

Angin Kencang: Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Selatan.

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:’

Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Aceh dan Papua Pegunungan.
Angin Kencang: Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Editor | M HASAN | SMSI NETWORK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: COPYRIGHT © PAPUA TIMES 2023 | KARYA JURNALISTIK DILINDUNGI UNDANG-UNDANG