WAMENA | Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfosantik) merilis peringatan Polusi Udara, bagi warga Papua Pegunungan.
“Mari kita lebih waspada terhadap kondisi kualitas udara di Kota Wamena saat ini,”tulis Diskominfosantik Papua Pegunungan dalam rilis resminya, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Peringatan tersebut berdasarkan data IQAir yang terlampir, indeks kualitas udara Wamena mencapai AQI 157 (kategori Tidak Sehat), dengan konsentrasi polutan PM2.5 sebesar 63,9 µg/m³.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfosantik Papua Pegunungan, Lepianus Z. Kogoya, S.Pt., M.KP menyampaikan asap kiriman dari Papua Selatan mulai terlihat di Wamena. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada kesehatan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan.

Ia mengajak masyarakat melindungi diri sejak dini dan mengurangi aktifitas di luar rumah. Masyarakat juga diingatkan agar menghindari pembakaran lahan yang akan menambah polusi.
“Mengurangi aktivitas di luar rumah.Menggunakan masker N95/KN95 jika harus keluar. Kondisi udara mungkin tidak selalu terlihat berbahaya, tetapi partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru,”ajak Lepianus Kogoya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wamena, Jayawijaya menginformasikan bahwa sejak Jumat, 9 Oktober 2026, Kota Wamena Kabupaten Jayawijaya diselimuti asap. Polusi udara tersebut merupakan asap kiriman dari wilayah selatan Papua.
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Papua Selatan telah merembet dan menembus wilayah Papua Pegunungan, Papua Tengah akibat tiupan angin dan kondisi topografi.
Analisis angin menunjukkan polusi asap dari Papua Selatan bergerak dominan ke arah barat laut menuju wilayah Papua Pegunungan, Papua Tengah, hingga ke wilayah Papua Barat.
Kabut asap telah mencapai wilayah Taman Nasional Lorentz, menurunkan jarak pandang, gangguan penerbangan penurunan jarak pandang (visibility) turut berdampak pada rute penerbangan lokal di sekitar wilayah pegunungan dan dataran tinggi.
Disebutkan titik Panas (Hotspot) tercatat di Papua Selatan (terkonsentrasi di Merauke, Boven Digoel, dan Asmat) yang dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan.
Editor | BERTI PAHABOL | SMSI NETWORK







