BERITA UTAMA

Dirgahayu Hari Olah Tak Lagi Raga

50
×

Dirgahayu Hari Olah Tak Lagi Raga

Sebarkan artikel ini

HANS AL | PAPUA GROUP

Hari Olahraga Nasional (Haornas) lahir bukan dari seremoni. Tanggal 9 September 1948, di Solo, Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama. Tidak ada stadion megah. Tidak ada lampu sorot. Atlet bertanding di tengah keterbatasan, karena negara butuh bukti bahwa ia masih hidup dan bisa bergerak.

Haornas ditetapkan 35 tahun kemudian, untuk mengingat momen: bahwa olahraga adalah cara sebuah bangsa membuktikan eksistensinya.

Dulu maknanya jelas. Sekarang maknanya kabur. Kita lebih banyak menonton daripada bergerak. Ironinya, kita hidup di era paling sporty secara tampilan. Jersey original, sepatu lari karbon, smartwatch yang menghitung VO2 max.

Di media sosial, semua orang terlihat atletik. Tapi data Riset Kesehatan Dasar bercerita lain. Lebih dari sepertiga orang dewasa Indonesia kurang aktivitas fisik. Di kota besar, anak-anak lebih hafal nama pemain bola Eropa daripada cara melakukan push-up yang benar.

Olahraga berubah dari kebutuhan menjadi tontonan. Kita mendukung tim, kita berdebat soal VAR, kita membeli tiket liga, tapi tubuh kita sendiri jarang diajak kompromi.

Hari Olahraga Nasional akhirnya terasa seperti Hari Buku di tengah masyarakat yang malas membaca — dirayakan dengan sambutan, bukan dengan perilaku.

Di Bumi Cenderawasih, ini terasa lebih jujur. Kita pernah menjadi tuan rumah PON XX tahun 2021. Stadion Lukas Enembe yang megah itu dibangun. Untuk beberapa minggu, Papua menjadi pusat perhatian olahraga Indonesia dan dunia.

Lalu apa? Banyak venue yang setelah itu sepi. GOR masih berdiri, tapi pembinaan yang konsisten tidak selalu ikut berdiri bersamanya.

Kita pandai membangun panggung, tapi tidak selalu pandai pembinaan.
Ada tiga hal yang membuat Haornas pelan-pelan kehilangan gaungnya.
Pertama, olahraga kalah oleh definisi sempit tentang produktivitas. Di sekolah, jam olahraga sering jadi jam yang paling mudah dipinjam untuk kejar materi ujian.

Di kantor, lembur dianggap lebih keren daripada pulang tepat waktu untuk lari sore. Kita mengagungkan kerja keras, tapi lupa bahwa tubuh yang tidak digerakkan justru membuat kerja itu tidak tahan lama.

Kedua, ruang publik untuk bergerak semakin sempit. Trotoar untuk pejalan kaki jadi lapak jualan, apalagi jogging track masih barang langka di Papua.

Banyak anak di Papua ingin main bola, tapi lapangan terbatas. Olahraga akhirnya menjadi barang privat: harus bayar gym, harus sewa lapangan, harus punya sepatu mahal. Padahal esensi PON pertama dulu justru kebalikannya: olahraga dengan apa yang ada.

Ketiga, kita kehilangan tokoh gerak di sekitar. Dulu guru olahraga adalah pahlawan, sekarang banyak sekolah kekurangan guru olahraga. Pemerintah sibuk dengan dunia birokrasinya. KONI Daerah apalagi, tak berdaya. Redup tanpa sokongan. Orang tua jaman now lebih mudah memberikan HP daripada mengajak anak ke lapangan atau jalan sehat.

Tanpa contoh yang bergerak di dekat kita, peringatan HAORNAS hanya jadi kalender. Mungkin kita tidak perlu menunggu instruksi presiden atau acara seremonial di stadion untuk memedulikan lagi.

Olahraga tidak harus selalu tentang prestasi emas. Ia bisa dikembalikan ke fungsinya yang paling purba: cara manusia merasa hidup bersama. Jalan kaki 30 menit tanpa earphone.

Hari Olahraga Nasional seharusnya bukan hari untuk mengingat bahwa negara pernah punya atlet hebat. Tapi hari untuk bertanya dengan jujur: kapan terakhir kali tubuh kita sendiri kita anggap penting? Atau Haornas dirubah menjadi Hari Olah Tak Lagi Raga?

Comment

error: COPYRIGHT © PAPUA TIMES 2023 | KARYA JURNALISTIK DILINDUNGI UNDANG-UNDANG