BELANDA | PACE Collection Foundation (PCF) dan Universitas Cenderawasih (Uncen) resmi menjalin kerja sama repatriasi artefak warisan budaya Papua dari Belanda.
Kesepakatan ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pengalihan Artefak dan koleksi pribadi milik PACE Collection Foundation kepada Museum Loka Budaya Papua Uncen.
Penandatanganan Nota Kesepahaman tersebut berlangsung Sabtu [22/8/2026] di NH Hotel, Utrecht, Belanda oleh Drs. Feije Duim, M.A selaku Ketua PACE Collection Foundation dan Dr. Ferdinand Risamasu, S.E., M.Sc.Agr, Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan mewakili Rektor Uncen.
Disaksikan Sekretaris PACE Collection Foundation Huub Lems, S.H, Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi, Dr. Basir Rohrohmana, S.H., M.Hum., dan Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama dan Humas Uncen, Marthinus M. Itaar, S.H., M.A.P.

Melalui MoU ini, PACE Collection Foundation akan mengalihkan berbagai koleksi budaya Papua yang selama ini disimpan di Belanda kepada Museum Loka Budaya Papua Uncen.
Koleksi tersebut tidak hanya berupa artefak, tetapi juga ribuan foto, dokumen, buku, rekaman video, film, musik, dan dokumentasi lainnya yang berasal dari berbagai wilayah di Papua.
Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga, melestarikan sekaligus mengembangkan warisan budaya Papua.
PACE Collection Foundation selama ini menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan budaya Papua. Koleksi tersebut tidak hanya berupa artefak, tetapi juga mencakup ribuan foto, dokumen, buku, rekaman video, film, musik, serta berbagai dokumentasi lainnya.
Koleksi tersebut berasal dari berbagai wilayah di Tanah Papua dan menjadi bagian penting dalam dokumentasi sejarah serta kehidupan masyarakat Papua.

Wakil Rektor II Uncen, Ferdinand Risamasu, mengapresiasi komitmen PACE Collection Foundation yang selama ini menjaga dan merawat warisan budaya Papua.
“Koleksi ini memiliki nilai penting bagi masyarakat Papua, terutama bagi generasi muda untuk mengenal kembali sejarah, identitas, dan kekayaan budaya leluhur,”ujar Risamasu dalam keterangan resminya, Senin (24/08/2026)
Ke depan, koleksi tersebut tidak hanya akan disimpan, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber pembelajaran, penelitian, dan pendidikan di Museum Loka Budaya Papua Uncen.
Kerja sama ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara Universitas Cenderawasih dan PACE Collection Foundation dalam bidang pendidikan, penelitian, dokumentasi, dan pengembangan pengetahuan tentang budaya Papua.
Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat mendukung proses berbagi pengetahuan dan pengalaman antara para ahli, pengelola koleksi, serta civitas akademika Universitas Cenderawasih.
“Kerja sama ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara Universitas Cenderawasih dan PACE Collection Foundation dalam bidang pendidikan, penelitian, dokumentasi, dan pengembangan pengetahuan tentang budaya Papua,”tandas Risamasu.

Artefak Papua Dari Ameriksa
Sebelumnya, Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen) di Jayapura resmi menerima repatriasi perdana sekitar 1.200 artefak budaya Papua serta puluhan ribu arsip dokumentasi dari Amerika Serikat pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Koleksi bersejarah yang direpatriasi ini berasal dari O. W. (Bud) Hampton, seorang antropolog asal University of Colorado, Amerika Serikat.
Hampton melakukan penelitian ekstensif di wilayah Pegunungan Papua sejak tahun 1970 hingga 1999.
Selama hampir tiga dekade, ia mengumpulkan berbagai artefak budaya melalui mekanisme pembelian maupun sistem barter dengan masyarakat adat di wilayah Jayawijaya, Lanny Jaya, Tolikara, Puncak Jaya, Nduga, hingga Yalimo.
Jumlah koleksi yang berhasil dipulangkan memiliki skala yang sangat masif, meliputi:1.200 artefak budaya fisik,Lebih dari 20.000 foto dan dokumentasi visual,100 rekaman suara.
Editor | MARSHAL SAROBI | PAPUA GROUP









Comment