JAKARTA | Julia Maharani Dabi dulu hanya bisa menyaksikan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dari layar kaca di rumahnya di Wamena. Kini, siswi SMAN 1 Wamena, Papua Pegunungan itu akan mengibarkan Sang Merah Putih di Istana Negara pada HUT ke-81 RI.
Perjalanan Julia menuju Istana tidak mudah. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sudah memimpikan menjadi bagian dari Paskibraka.
“Kalau 17-an, setiap hari saya nonton. Mereka langkahnya tegap, saya berpikir pasti saya bisa. Saya percaya diri kalau saya akan mengibarkan bendera,” ujar Julia dalam keterangan pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Sabtu (16/8/2026).
Dukungan penuh datang dari kedua orang tuanya. Posturnya yang tinggi dan tegap dinilai sangat cocok untuk menjadi pengibar bendera.
Mimpi itu mulai menemukan jalannya saat Julia masuk ke SMAN 1 Wamena. Dalam masa penerimaan siswa baru, kakak kelasnya terpikat dengan postur dan cara berjalan Julia. Ia pun ditawari untuk bergabung dalam pelatihan Paskibraka sekolah.
“Setelah itu, jadi kami selalu latihan setiap sore sepulang sekolah. Latihan dan terus latihan,” tuturnya.
Jarak rumah ke sekolah menjadi tantangan pertama. Julia harus menempuh 30 menit dengan sepeda motor. Saat tak ada uang untuk bensin, ia memilih berjalan kaki demi latihan baris-berbaris pukul 14.00 hingga 17.00 WIT.
“Bagaimanapun tantangannya, cobaan, godaan, saya lewati,” katanya.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Saat Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) mencari bibit Paskibraka Nasional di sekolahnya, Julia lolos seleksi tingkat sekolah bersama empat temannya.
Ia kemudian melaju ke seleksi tingkat Provinsi Papua Pegunungan. Dari tingkat provinsi, Julia bersama satu temannya berhasil lolos verifikasi pusat di Jakarta. Tiga rekannya harus kembali.
Di Jakarta, tantangan baru muncul. Selain harus beradaptasi dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, Julia menghadapi keterbatasan ekonomi.
Ia mengaku tidak memiliki sepatu pantofel untuk latihan. Demi tetap bisa berlatih, ia meminjam sepatu milik tetangganya di Wamena. Namun ukuran sepatu itu kekecilan.
“Pegal yang luar biasa ketika berlatih menggunakan sepatu tersebut. Tapi saya tetap semangat. Bagaimanapun caranya, ada tantangan walaupun sakit, saya tetap latihan. Karena saya yakin saya bisa. Saya bukan perempuan lemah, saya itu kuat,” tegas Julia.
Kini, putri asal Papua Pegunungan itu tetap berlatih dengan antusias jelang upacara 17 Agustus di Istana Negara. Kedua orang tuanya telah berpulang – sang ibu meninggal pada 2022 dan ayahnya menyusul dua tahun kemudian pada 2024. Mereka tak sempat melihat anaknya mewujudkan mimpi yang dulu mereka dukung.
Meski begitu, Julia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang.
“Saya akan menunjukkan kepada seluruh masyarakat di tanah Papua, bahwa saya dari Papua Pegunungan bisa mengibarkan bendera pusaka di istana dengan baik dan tidak ada kesalahan satu pun,” pungkasnya.

Sebanyak 76 pelajar dari 38 provinsi di Indonesia resmi dikukuhkan sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tahun 2026. Pengukuhan tersebut dilakukan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming dalam upacara yang digelar pada Sabtu, 15 Agustus 2026 di Istana Negara, Jakarta.
Wakil Presiden Gibran selaku pembina upacara secara simbolis menyematkan Lencana Merah Putih Garuda dan pemasangan kendit kepada pemimpin upacara. Adapun 76 nama anggota Paskibraka yang dikukuhkan, 12 diantaranya berasal dari 6 Provinsi di Papua.
Yakni Johanes Matius Paulus Rumsayor dan Neeltje Deliana Insjowi Werimon asal Provinsi Papua, Marco Marcel Kurei dan Hasna Iriani Rumbiak asal Papua Barat, Pieter Felix Paskah Yapen dan Vila Delvia Nauri asal Papua Barat Daya,Vinsensius Renaldi Oey Yolmen dan Kristina Ndiken dari Papua Selatan,Christopher Leon Bringga Tabuni dan Gladys Manuella Aibekob asal Papua Tengah dan Michael Marchel Winka Fakdawer- Julia Maharani Dabi asal Papua Pegunungan.
Editor | HASAN HUSEN | PAPUA GROUP









Comment