WAMENA | Kapasitas fiskal Provinsi Papua Pegunungan mengalami penurunan signifikan. Dari sekitar Rp2,2 triliun turun menjadi sekitar Rp1,1 triliun. Kondisi tersebut cukup berat bagi proses pembangunan didaerah tersebut dengan beragam tantangan geografis dengan tingkat kemiskinan tinggi.
“Dari sekitar Rp2,2 triliun turun menjadi sekitar Rp1,1 triliun. Ini sangat berat, tetapi kita tidak boleh patah semangat. Saya minta seluruh ASN tetap menjaga semangat pengabdian dan bekerja maksimal untuk masyarakat,”pinta Gubernur Papua Pegunungan, Dr.John Tabo disela pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Otonomi Khusus (Otsus) Tahun 2027 di Hotel Baliem Pilamo, Senin, 27 April 2026.
Ia menjelaskan, distribusi logistik di Papua Pegunungan masih sangat bergantung pada transportasi udara, sehingga biaya pembangunan menjadi jauh lebih tinggi dibanding daerah lain.
Karena itu, ia meminta perhatian pemerintah pusat, terutama Bappenas, agar memberi dukungan lebih besar bagi pembangunan infrastruktur strategis seperti akses Jayapura–Wamena dan pengembangan Bandara Wamena.
“Kalau orang Jakarta datang hanya ke Jayapura lalu pulang, itu belum sampai Papua. Tapi kalau sudah dari Jayapura ke Wamena, itu baru injak jantung hatinya Papua,” ujarnya.
Kondisi objektif Papua Pegunungan menghadapi tantangan berat, dari sisi kemiskinan maupun medan geografis.
“Kita ini provinsi termiskin di Indonesia. Tingkat kesulitan paling tinggi, karena geografi kita semua gunung. Tidak ada laut, tidak ada dataran rendah,” katanya.
Editor | HENDROL K | PAPUA GROUP







Comment