BERITA UTAMAINTERNASIONAL

Gereja-Gereja di Indonesia Dukung Rakyat Papua Tolak PSN dan Militerisme

17180
×

Gereja-Gereja di Indonesia Dukung Rakyat Papua Tolak PSN dan Militerisme

Sebarkan artikel ini

JAYAPURA | Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) secara resmi mendukung masyarakat adat Papua menolak menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tanah Papua.

Dan menolak militerisme dan otoritarianisme di Indonesia, dan mendorong penghargaaan terhadap demokrasi dan hak asasi manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, S.Th., S.Fil., M.A usai sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL PGI) di Merauke, sejak 30 Januari hingga 2 Februari 2026.

Manuputty mengatakan sidan MPL-PGI di Merauke dihadiri perwakilan dari 105 Sinode Anggota, 30 PGIW/SAG, serta badan-badan oikoumenis dan lembaga-lembaga mitra PGI.

Setelah melakukan kajian dan mendengar suara masyarakat adat Papua, gereja-gereja di Papua dan Majelis Rakyat Papua (MRP), PGI sepakat mendukung masyarakat ada menolak PSN dan menolak militerisme dan otoritarianisme.

“Kami bersepakat menyatakan:
1. Gereja-gereja di Indonesia mendukung masyarakat adat yang menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tanah Papua.

2. Gereja-gereja di Indonesia menolak militerisme dan otoritarianisme di Indonesia, dan mendorong penghargaaan terhadap demokrasi dan hak asasi manusia,”kata Manuputty usai
Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026, Senin 2 Februari 2026 di Merauke.

Sidang MPL-PGI dibuka pada Jumat, 30 Januari 2026, bertempat di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan.

Sidang yang mempertemukan gereja-gereja dari seluruh Indonesia ini mengusung tema “Hiduplah sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran” (Efesus 5:8b–9), dengan subtema “Bersama-sama Mewujudkan Masyarakat Majemuk yang Pancasilais dan Berdamai dengan Segenap Ciptaan Allah”.

Pikiran pokok sidang menegaskan panggilan gereja untuk “Hiduplah sebagai Terang: Mewujudkan Ecclesia Domestica yang Memulihkan Kehidupan Bangsa dan Merawat Ciptaan.”

Ibadah pembukaan berlangsung khidmat dan sarat dengan nuansa budaya Papua. Dipimpin oleh Pdt. Evelyn Iho. Renungan firman Tuhan disampaikan oleh Ketua Umum Sinode Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua, Pdt. Donald E. Salima, yang mengangkat Galatia 6:10 sebagai dasar permenungan.

Ia menegaskan bahwa seruan Rasul Paulus, “selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,” mengandung prinsip-prinsip etis yang mendalam. Berbuat baik, menurutnya, bukan sekadar tindakan karitatif, melainkan wujud tanggung jawab iman yang harus dilakukan secara sadar, berani, dan konsisten.

Kesempatan untuk berbuat baik adalah anugerah Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Karena itu, gereja tidak boleh pasif atau berdiam diri. Gereja dipanggil untuk berani bersaksi dan hadir secara nyata di tengah pergumulan bangsa yang terus berubah. Pdt. Salima mengajak gereja-gereja untuk bergerak bersama dalam melakukan yang baik, benar, dan tepat bagi kehidupan bersama.

Usai pelayanan firman, Ketua Umum Majelis Pekerja Harian PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, melakukan tindakan simbolis dengan menimbun akar bibit pohon menggunakan tanah. Tindakan ini menjadi lambang keberpihakan gereja kepada seluruh ciptaan dan komitmen untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.

Dalam sambutannya, Pdt. Jacklevyn menegaskan bahwa Merauke bukan sekadar sebuah lokasi penyelenggaraan sidang, melainkan ruang pembelajaran dan keberanian bagi gereja-gereja untuk berjalan bersama.

Gereja-gereja di seluruh Indonesia adalah satu tubuh yang dipanggil untuk menemani, mendengarkan, dan menyembuhkan luka, rintihan, serta tangis Papua.

Sejalan dengan tema sidang, gereja-gereja diingatkan untuk menjadi terang yang menghadirkan kebaikan, keadilan, dan pemulihan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan seluruh ciptaan. Terang, tegasnya, adalah keberanian moral untuk tidak membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.

Gubernur Papua Selatan, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., M.Th., dalam sambutannya mengutip pernyataan Ikatan Ahli Geologi Indonesia yang menyebut Papua sebagai ikat pinggang emas, sebuah ungkapan yang menggambarkan kekayaan alam Papua yang luar biasa.

Namun, ia menegaskan bahwa kekayaan tersebut harus dikelola dengan hikmat dan keadilan. Ia juga mengutip doktrin Bapa Gereja, Santo Siprianus, Extra Ecclesiam Nulla Salus, untuk menegaskan pentingnya peran gereja dalam membawa manusia kepada Sang Bapa serta menghadirkan keselamatan yang nyata dalam kehidupan sosial.

Editor | TIM | PAPUA GROUP

Comment

error: COPYRIGHT © PAPUA TIMES 2023 | KARYA JURNALISTIK DILINDUNGI UNDANG-UNDANG