BERITA UTAMAINTERNASIONAL

Presiden: Biak Pilot Project Kampung Nelayan yang Sukses

10301
×

Presiden: Biak Pilot Project Kampung Nelayan yang Sukses

Sebarkan artikel ini

Swasembada Pangan dan Energi

BOGOR | Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Biak Numfor Bersama masyarakatnya yang berhasil membangun perekonomiannya disektor perikanan.

Presiden mengatakan kampung nelayan Desa Samber Binyeri yang berada di Kabupaten Biak Papua telah terbukti meningkatkan produksi hingga mencapai 60 persen.

Program Kampung Nelayan Merah Putih bukan lagi sekadar rencana, melainkan kenyataan yang sudah membuahkan hasil di Biak.

“Kita sudah punya pilot project di Biak yang telah terbukti meningkatkan hasil nelayan. Peningkatannya hampir 60 persen,”ungkap Presiden Prabowo dalam taklimatnya pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Senin, 02 Februari 2026.

Presiden menegaskan pemerintah bakal memodernisasi sektor perikanan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Terdapat 12 juta kampung nelayan yang akan dimodernisasi. Setiap kampung nelayan akan kita dibangunjetty, dermaga kecil serta pabrik es, kita juga beri cold storage.

“Kita bantu kapal-kapal ikannya. Kapal ikan yang 5 GT beberapa, nanti kapal ikan yang lebih besar 30 GT, kita harap tiap desa akan dapat satu. Artinya apa? Nelayan-nelayan kita bisa melaut lebih lama, penghasilan mereka naik, dan kita sudah punya pilot project di biak yang telah terbukti meningkatkan hasil petani hampir 60 persen peningkatannya,”jelas Presiden.

Kabupaten Biak Numfor, Papua menjadi salah satu pengekspor komoditi perikanan ke berbagai negara seperti China, Jepang dan Amerika yang permintaanya sangat tinggi.

Biak Numfor memiliki potensi ikan tuna jenis Yellowfins 1,1 juta ton/tahun dan berkontribusi menghasilkan devisa bagi negara sekitar Rp17 triliun.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedari awal mendorong Kabupaten Biak Numfor menjadi sentra pangan dengan sektor perikanan sebagai komoditas utamanya. Melalui pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT).

KKP merilis, produksi perikanan tangkap mengalami peningkatan sebesar 35 persen. Pada Tahun 2016 produksi hasil tangkapan nelayan hanya sebesar 56.960 ton dan menjadi 76.847 ton di tahun 2019. Hingga 2023, Kabupaten Biak Numfor telah mengekspor 140,4 ton tuna ke Jepang.


Swasembada Pangan dan Energi

Selain program kampaung nelayan, Presiden Prabowo Subianto memaparkan arah besar pembangunan nasional melalui strategi transformasi bangsa. Strategi ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju modern dengan tolok ukur utama peningkatan kualitas hidup seluruh rakyat.

“Kita tidak bermimpi untuk menjadi high income country. Kita tidak bermimpi kita mau hidup seperti Norwegia atau Kanada. Kita hanya mau supaya semua rakyat kita hidup, kualitas hidupnya baik. Artinya, makan harus cukup sehat, kesehatannya harus dijamin, anak-anaknya harus sekolah dengan baik. Dia punya penghasilan yang cukup,” ucap Presiden Prabowo.

Presiden menjelaskan bahwa strategi tersebut dijalankan melalui delapan misi Asta Cita, 17 program prioritas, serta program hasil terbaik cepat. Lebih lanjut, Kepala Negara menempatkan swasembada pangan dan swasembada energi sebagai pilar utama.

“Kalau bisa saya ringkas, lebih sederhana, yaitu fondasi pertama kita, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus swasembada pangan. Swasembada pangan, tidak ada alternatif. Kalau kita mau merdeka, kalau kita mau sejahtera, kita harus jamin produksi pangan sehingga pangan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat kita. Swasembada pangan adalah syarat, itu adalah pilar yang utama dari strategi,” imbuh Kepala Negara.

Sementara pada sektor energi, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa kemandirian energi merupakan pilar penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan. Pemerintah pun terus mendorong optimalisasi sumber daya nasional agar Indonesia tidak bergantung pada pihak luar.

“Swasembada energi, harus! Nanti ada kelompok, apa bisa? Bisa! Kita sudah hitung, tapi kita punya kelebihan-kelebihan luar biasa,” kata Presiden.

“Swasembda energi, swasembada pangan, baru kita harus mengubah aliran uang yang dari desa ke kota, ke ibu kota dan ke luar negeri. Kita harus hentikan dan membalikkan antara lain dengan makan bergizi gratis. Anak-anak kita harus makan cukup,” lanjutnya.

Editor | TIM | PAPUA GROUP

Comment

error: COPYRIGHT © PAPUA TIMES 2023 | KARYA JURNALISTIK DILINDUNGI UNDANG-UNDANG