Pj Gubernur Rumasukun Buka Seminar Agama, Moderasi dan Multikulturalisme

JAYAPURA | PAPUA TIMES- Penjabat (Pj) Gubernur Papua, Dr. Muhammad Ridwan Rumasukun, S.E., M.M, Selasa 7 November 2023 resmi membuka Seminar Internasional Agama, Moderasi dan Multikulturalisme yang dipelopori Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Fattahul Muluk Papua bekerjasama dengan Univerisity Kebangsaan Malaysia.

Gubernur Rumasukun dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya seminar tersebut karena melibatkan perguruan tinggi ternama dari dua negara yakni Indonesia dan Malaysia.

SIAPA CALON GUBERNUR PAPUA 2024-2029, PILIHAN ANDA
  • Add your answer
Poll Options are limited because JavaScript is disabled in your browser.

“Suatu acara yang luar biasa ini. Seminar yang tidak hanya melibatkan sedikitnya 10 Perguruan tinggi ternama, tetapi juga melibatkan dua negara dan berlangsung di tanah Papua, sebuah tempat yang banyak orang menyebutnya sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi,”ungkapnya.

Ia mengatakan sebagai Pejabat Gubernur di Papua yang diberi Amanah oleh pemerintah, saya bersaksi bahwa di Papua nyanyian keragaman yang berbaur dengan harmoni kehidupan masyarakatnya yang sangat majemuk, sesungguhnya sejalan dengan tema seminar yang diusung hari ini, yaitu Agama, moderasi dan multiculturalisme.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa membicarakan Papua sebagai sebuah wilayah administrasi merupakan sesuatu yang biasa saja, namun Ketika dikontekstualisasi pada keragaman etnis yang dimilki, aneka warna kearifan yang di praktekkan oleh masyarakatnya, maka menunjukkan suatu mozaik yang rumit namun indah, karena keragaman bukan hanya kata-kata, melainkan sebuah realitas hidup yang dinamis, dan setiap hari dirayakan sebagai sebuah anugerah kehidupan.

“Banyak filosofi kehidupan masyarakat Papua yang terus dipraktekan dalam keseharian penduduk, yang kemudian telah menjadi rule model bagi Pemerintah bagaimana menata hubungan sesama yang berbeda, baik etnis, agama maupun pilihan politik.”

“Secara structural misalanya dapat di lihat dalam mekanisme noken, sebagai model ideal dalam menentukan perwakilan-perwakilan suatu kelompok dalam system pemerintahan. Atau dalam perspektif kultural, semisal filosofi satu tungku tiga batu yang juga telah di adopsi oleh pemerintahan dalam mengatur hubungan antara pemerintah, adat, dan agama,”ujar Rumasukun.

Dikatakannya, dalam skala yang lebih kecil, adanya sebuah fenomena, tumbuh suburnya paham PKI (Protestan, Katholik, Islam) dalam keluarga-keluarga inti orang Asli Papua yang dengan Paham tersebut, justru membuat mereka sangat kokoh sebagai sebuah keluarga. Bahwa pilihan agama boleh berbeda, namun mereka disatukan dalam sebuah ikatan kekerabatan.

Meskipun demikian secara universal saat ini Agama seringkali dipandang sebagai sumber konflik diberbagai belahan dunia, akan tetapi di Papua agama merupakan sumber kedamaian dan perdamaian.

“Sebagai seorang Muslim di Papua, saya telah belajar bahwa Islam yang saya anut mengajarkan moderasi, yang berarti menjauhi ekstrem baik dalam keyakinan maupun dalam praktek. Moderasi ini tidak lain adalah refleksi dari konsep “wasatiyyah” yang menjadi prinsip hidup dalam Islam, yaitu jalan tengah yang membawa rahmat bagi seluruh alam,”jelasnya.

Moderasi atau bersikap moderat itu bukan berarti lemah atau kompromistis, tapi sebuah upaya untuk menavigasi keragamandengan bijak. Moderasi merupakan Upaya mengelola perbedaan dan menjadikannya sebagai kekuatan, bukan sebagai titik lemah.

Perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk meretakkan jalinan kesatuan, melainkan harus menjadi penguat dari keberagaman, bukankah jabatan tangan akan terasa lebih erat jika terdapat lima jari yang berbeda dan dengan fungsi yang berbeda-beda.

Sebagai sebuah provinsi yang kaya dengan keberagaman suku, agama, dan kepercayaan, kita memiliki tanggung jawab untuk merawat setiap benih kerukunan. Kita harus menempuh jalan yang kadang tidak mudah ini dengan kebijaksanaan dan keberanian hati, memastikan bahwa setiap perselisihan diolah dengan dialog yang membangun dan sikap yang mengedepankan kesatuan.

“Ingatlah, bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini pun demikian. Keragaman adalah sunnatullah, keniscayaan yang sudah Allah takdirkan. Maka, sebagai penutup sambutan ini, marilah kita semua, sebagai anak bangsa yang mendambakan kedamaian dan kesatuan, mengangkat pandangan kita jauh ke depan, melintasi cakrawala perbedaan, menuju horison dimana persatuan bukanlah sekadar mimpi, tetapi menjadi realita yang kita bangun dengan tangan-tangan kita sendiri. Semoga apa yang kita tanam hari ini di bumi Papua dan di seluruh Indonesia, berupa benih-benih kerukunan, akan tumbuh menjadi hutan rimbun keberagaman yang menyediakan naungan bagi setiap jiwa yang menghuni tanah air tercinta ini,”pungkas Gubernur Ridwan.

Editor | PAPUA GROUP