PON XX : Perjuangan Terakhir Tiga Serangkai Seni Gerak Tarung Derajat Asal Jabar

TIMIKA | PAPUA TIMES – Peraih emas PON XIX Jawa Barat (Jabar) untuk kelas Rangkaian Seni Gerak Putri turun kembali pada PON XX Papua.

Kali ini, formasi tiga srikandi ini mengalami perubahan. Sebelumnya di PON XIX Jabar diperkuat oleh Mega Ayu, Putri Desiyanti Azhara, dan Ridha Fauziah.

SIAPA CALON GUBERNUR PAPUA 2024-2029,PILIHAN ANDA?

View Results

Loading ... Loading ...

Dikarenakan Mega Ayu memilih untuk fokus kepada keluarga ia akhirnya keluar dari formasi tersebut dan menjadi pelatih di Bandung.

Guna mengisi kekosongan tersebut, dilakukan seleksi di provinsi Bogor dan Eriska Agustina terpilih dari sekian banyak orang yang mengikuti seleksi.

Kepada media Eriska Agustina mengatakan pada Pekan Olahraga Daerah (Polda) Jabar ia berhasil meraih emas untuk seni gerak ranger putri. Dari Polda ia kemudian mengikuti seleksi untuk PON XX Papua.

“Sebelumnya ada lima orang untuk kualifikasi PON saya yang lolos seleksi. Ibaratnya saya pemula dan mereka sudah profesional tetapi saya bisa menyeimbangi. Alhamdulilah, Allah melancarkan semua perjuangan dua tahun ini dan kami bisa masuk final,” katanya.

Meski PON XX sempat ditunda selama setahun dan perjuangannya yang selalu pulang pergi Bogor serta meninggalkan suami serta anak akhirnya terbayarkan dengan masuk final.

“Saya puas. Inilah yang ditunggu-tunggu mengorbankan segala sesuatunya, apapun hasilnya saya pasrah kepada Allah,” ungkapnya.

Dikatakan selama ia berada di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, ia merasakan bahwa ini merupakan tantangan tersendiri baik dari segi latihan maupun persaingan.

”Karena untuk teknik tarung derajat disini merata kalau dulu mungkin Jabar medominasi tapi PON Papua ini merata untuk semua petarung. Tidak semua orang bisa ikut PON, justru yang terpilih sudah mewakilkan, rasanya sangat bangga,” ucapnya.

Ia merasa mendapat rejeki berlipat ganda karena selain PON pertama ini juga merupakan kali pertama ia ke Papua.

“Awalnya takut malaria tapi kita waspada juga. Dari pelatih dan pengurus sudah mempersiapkan kita agar tercegah dari malaria. Sejauh ini tidak ada kendala apapun,” imbuhnya.

Sementara itu, Putri Desiyanti Azhara mengatakan chemsitry yang dibangun dengan Eriska memerlukan waktu yang lama karena domisili Eriska di Bogor.

Selain itu ketika pandemi, Pemda Jabar menerapkan PPKM sehingga latihan hanya dilakukan melalui zoom.

“Saya dan Ridha chemistry sudah dapat dari 2013. Kita sudah sama-sama ikut kejurnas jadi dengan Eriska Agustina sehingga kami sudah menyesuaikannya lama. Jadi banyak rintangannya, lebih sulit dari dulu. Tapi tiga bulan sebelum PON, kita bangun chemistry dengan kumpul setiap hari,” ungkapnya.

Selama di Papua ia pun merasakan jauh dari rumah namun tetapi itu menjadi pendorong yang memotivasi untuk pulang ke rumah membawa prestasi dan mempertahankan emas sebelumnya.

“Kita harus bisa berjaya di tanah orang juga. Setelah tampil kami puas dan optimis dengan ijin Allah. Masyarakat disini ramah, Papua memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Kalau kita baik mereka juga baik. Kami betah karena orangnya baik dan ramah. Di penginapan juga ramah kaya di rumah sendiri, alhamdulilah kita nyaman dan betah,” ujarnya.

Demi PON XX Papua Putri dan Eriska harus menunda kehamilan demi Jabar.

“Jadi ini benar-benar puncaknya kita. Setelah PON Papua saya selesai dan mau fokus di keluarga. Kedepan saya akan jadi pelatih dulu karena mau ada Pekan Olahraga Daerah (Porda) jadi saya melatih dan bagikan ke adik-adik ilmu yang saya dapat dan memotivasi mereka,” ungkapnya.

Menurutnya, kejuaraan bukan soal menang atau kalah tapi bagaimana bisa memegang amanah dari Allah dan bagaimana proses yang dijalani.

“Allah tidak pernah melihat hasilnya tetapi bagaimana kita berjuang dan berproses, hal itulah yang akan menjadi kedewasaan kita nantinya. Saya belajar untuk bersabar dan kalau sudah punya prestasi tinggi juara itu tidak boleh sombong,” pesannya.

Setelah PON XX Papua, Putri dan Eriska memilih untuk pensiun menjadi atlet dan memilih fokus kepada keluarga.

Namun lain halnya dengan Ridha Fauziah. Ia memilih untuk tetap menjadi atlet dan terus meraih prestasi.

“Saya masih ingin berprestasi dan belum berumah tangga jadi masih panjang perjalanannya. Kedepan saya harus siap di kolaborasi dengan siapa saja,” katanya.

Selama bertanding di Mimika ia merasa bahwa panitia pelaksana selalu mengingatkan untuk menjaga protokol kesehatan.

“Waktu sebelum kesini ada yang bilang hati-hati di Papua, tapi ternyata tidak sesuai dengan yang dibicarakan orang. Di sini semua ramah. Selama yang saya rasain sih orangnya tidak seperti yang dibilang, kami pernah jalan pagi-pagi masyarakat selalu menyapa selamat pagi,” kisahnya.

“Sang Guru Rimba dan Badai kasih wejangan pulang jangan dendam, kita selesaikan di arena pertarungan. Selesai dari sini kita semua tetap keluarga,” tutupnya.

Tiga serangkai Putri Desiyanti Azhara, Ridha Fauziah dan Eriska Agustina pada PON XX Papua menampilkan rangkaian gerak putri derajat dua dengan menambahkan unsur tradisional khas Jabar yakni pisau kujang dan tari Jaipong.

PON XX Papua merupakan perjuangan terakhir mereka bersama-sama membela Jawa Barat. Putri akan menjadi Pelatih di Bandung, Erisk kembali ke Bogor dan Ridha tetap menjadi atlet guna mengikuti seleksi PON selanjutnya.

Editor | TIM

Komentar