PON XX: Yusak Refasi Bidik Emas Dasa Lomba

JAYAPURA | PAPUA TIMES- Atlet Dasa Lomba Papua, Yusak Refasi sudah menyumbangkan dua medali perak bagi kontingen Papua di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau dan PON XIX Jawa Barat. Di PON Papua, atlet kelahiran 1 Januari 1992 itu ingin mempersembahkan emas bagi mamanya dan Papua.

Terlahir dari seorang anak nelayan yang berasal dari Kampung Kwatisore, Nabire, Yusak sama sekali tak punya basic dan pemahaman tentang olahraga atletik atau bahkan jebolan PPLP. Hanya berbekal bakat alami, dia mempelajari seluk beluk olahraga atletik dari para seniornya pada tahun 2010 silam. Ketika itu dia masih berusia 18 tahun dan berhasil menjadi juara 1 dalam kejuaraan atletik di Jakarta.

“Saya pelajari gerak gerik atlet yang lain dan mencuri ilmu dan saya akhirnya bisa. Saya ikut kejuaraan di Jakarta dan sumbang medali emas pertama di situ. Usia saya waktu itu masih 18 tahun tapi bertanding dengan atlet senior,” kata Yusak.

Sejak saat itu, kariernya kian melejit. Yusak bergabung dengan kontingen Papua di Pra PON 2012 Riau dan sukses mendapatkan juara kedua yang membawanya tampil di PON XVIII Riau. Di debut PON-nya itu, Yusak juga membawa pulang medali perak dan hanya kalah dari atlet senior Zakaria Malik asal Lampung.

“Setelah itu saya dipanggil masuk Pelatnas tapi tidak masuk ke timnas, padahal ada nama kita cuma tidak diikutkan. Tahun 2013 saya ikut Hongkong Open dan saya meraih juara 1 tolak peluru nomor perorangan, dan di 400 meter saya turun dapat perak di level Asia itu. Saya dapat dua medali. Lalu 2014 saya ikut Malaysia Open dan dapat juara 2,” bebernya.

Yusak juga menceritakan saat mengikuti Pra PON 2015 Jawa Barat (Jabar) ia mengalami cedera tangan karena tongkat galahnya patah. Tapi, dia tetap memaksakan ikut dan hasilnya ia bisa keluar sebagai juara pertama dan lolos ke PON XIX Jabar. Pas di PON XIX Jabar Yusak sebenarnya bisa mendapatkan emas, namun ia mengaku dicurangi.

“Tahun 2015 di Pra PON itu saya sempat alami cedera di tangan karena tongkat galah saya patah dan hampir tidak bisa bermain, tapi saya paksakan diri untuk bertanding, dan saingan saya Zakaria Malik batal ikut karena trauma lihat saya cedera. Dan akhirnya saya dapat peringkat 1 di situ dan lolos ke PON XIX Jabar. Di PON XIX Jabar sebenarnya saya bisa dapat juara 1 tapi saya dicurangi, tapi saya ikhlas saja,” kenangnya.

Yusak adalah tulang punggung dalam keluarganya. Apalagi Sang Bapak baru saja meninggal dunia pada Agustus 2020. Yusak selalu berhasrat membahagiakan Sang Mama tercinta.

“Karena saya ini berasal dari keluarga nelayan, dan saya adalah tulang punggung keluarga, dan Bapa saya baru meninggal Agustus tahun lalu. Mama saya di kampung ada jaga anak saya di sana. Untuk itu saya ingin meraih prestasi terbaik dan mendapatkan medali emas agar bisa membahagiakan orang tua dan keluarga saya. Saya ingin buat mama tersenyum bahagia,” tuturnya.

Tak berharap banyak, Yusak ingin mendapatkan pekerjaan tetap jika dia berhasil mempersembahkan medali bagi Tanah Papua di PON XX, Oktober mendatang.

“Selama ini saya sehabis membela Papua di PON saya harus kembali ke kampung halaman karena tidak punya pekerjaan, saya minta kepada KONI agar saya bisa mendapatkan pekerjaan, kalau diizinkan saya ingin bertemu langsung dengan Pak Gubernur untuk meminta pekerjaan,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Papua, Markus Raubaba menyampaikan pesan Ketua Umum PASI Papua, Doren Wakerkwa, agar para atlet atletik Papua harus bisa memberikan prestasi terbaik di atas rumah sendiri.

“Di sisa tiga bulan ini kita harap para atlet bisa berlatih fokus demi hasil terbaik. Kalau bisa berprestasi di luar daerah, kita juga harus berprestasi di rumah sendiri. Bukan hanya sekadar mendapatkan medali, tapi prestasi itu juga akan menjadi berkat buat Tanah Papua, keluarga dan Pemerintah Papua. Terima kasih juga kepada KONI Papua yang sudah memantau dan mendukung para atlet kami selama menjalani TC,” pungkasnya.

Editor | TIM

Komentar