EKONOMI & BISNIS

Bank Indonesia Perkuat Penyediaan Rupiah di Wilayah 3T Papua

5558
Tim Bank Indonesia menggunkan Pesawat Terbang melaksanakan kegiatan Kas Keliling Luar Kota (KKLK) di Kabupaten Paniai, Deiyai, dan Dogiyai Provinsi Papua Tengah.(foto:Ist/PT)

JAYAPURA | Bank Indonesia Provinsi Papua memastikan ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah yang cukup, pecahan yang sesuai, dan kondisi layak edar hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Sepanjang Maret 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua telah melaksanakan beberapa kalikegiatan Kas Keliling Luar Kota (KKLK) guna memenuhi kebutuhan masyarakat dalam aktivitas perekonomiansehari-hari.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono mengatakan Kegiatan KKLK dilaksanakan pada bulan Maret 2026 di Kabupaten Keerom, Kabupaten Supiori Provinsi Papua dan Kabupaten Paniai, Deiyai, dan Dogiyai Provinsi Papua Tengah.

Kas Keliling Luar Kota (KKLK) Kabupaten Keerom, digelar di Distrik Senggi,pada 5–7 Maret 2026 ini merupakan upaya nyata Pejuang Rupiah dalam memenuhi kebutuhan uang Rupiah di Kabupaten Keerom.

“Kegiatan ini ditempuh melalui jalur darat dengan medan yang cukup menantang,”kata Warsono, Senin 13 April 2026.

Pada kesempatan tersebut, Bank Indonesia juga memperkuat edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah.

Sementara KKLK di Kabupaten Supiori berlangsung pada 10–11 Maret 2026.

Pada kesempatan tersebut, Bank Indonesia juga memperkuat edukasi Cinta,Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Rupiah sebagai alatpembayaran yang sah.

Bank Indonesia juga memperkuat edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah untuk mendorong pemerataan distribusi Uang Layak Edar (ULE) serta meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah.

Kondisi geografis yang terpencil dan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transaksi tunai menyebabkan uang Rupiah cenderung beredar dalam waktu lama, sehingga rentan mengalami kerusakan fisik.

Hal ini menunjukkan pentingnya peningkatan intensitas KKLK serta edukasi kepada masyarakat mengenai ciri- ciri uang layak edar dan cara menjaga kualitas uang. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran transaksi ekonomi serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Rupiah di wilayah tersebut.

Pada 27-30 Maret 2026, KKLK digelar simultan di Kabupaten Paniai, Deiyai, dan Dogiyai.

Karakteristik wilayah pegunungan yang sulit dijangkau dan terbatasnya akses layanan perbankan menyebabkan uang Rupiah cenderung beredar dalam waktu yang lama dan rentan mengalami kerusakan fisik.

Tingginya ketergantungan masyarakat pada transaksi tunai serta rendahnya frekuensi penggantian uang menyebabkan uang beredar cepat rusak, namun tetap digunakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Kondisi ini menjadi semangat bagi Pejuang Rupiah untuk terus memperkuat distribusi uang tunai melalui KKLK 3T serta memberikan edukasi berkelanjutan, agar kualitas uang yang beredar tetap terjaga dan mendukung efisiensi sistem pembayaran di wilayah pegunungan Papua Tengah.

Menurut Warsono, ke depan, Bank Indonesia akan terus memperluas jangkauan layanan kas melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan guna memastikan Rupiah hadir di seluruh pelosok, termasuk wilayah 3T.

BI juga mengajak masyarakat untuk selalu merawat Rupiah dengan prinsip 5J, yaitu Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan diremas, Jangan distapler, dan Jangan dibasahi.

Selain itu, masyarakat diharapkan berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan agar stabilitas harga tetap terjaga. Sinergi antara penyediaan uang tunai yang memadai, akselerasi pembayaran digital, dan peran aktif masyarakat dalam bertransaksi bijak diharapkan dapat memperkuat kelancaran sistem pembayaran,

Editor | M KASIM | PAPUA GROUP

Exit mobile version