Pangdam dan Kapolda Diminta Tutup Penambangan Emas

JAYAPURA (PTIMES)- Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Herman Asaribab dan Kapolda Papua Irjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw diminta untuk menutup penambangan emas liar di Kabupaten Boven Digoel, Asmat dan Pegunungan Bintang. Pasalnya, area penambangan di ketiga kabupaten itu menjadi kluster penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19).

SIAPA CALON GUBERNUR PAPUA 2024-2029, PILIHAN ANDA
  • Add your answer
Poll Options are limited because JavaScript is disabled in your browser.

Wakil Gubernur (Wagub) Papua, Klemen Tinal,SE.MM mengatakan hal itu saat virtual meeting/pertemuan dalam jaringan (Daring) dengan insan pers, Sabtu petang (6/6/2020) bertajuk Relaksasi Kontekstual Menghadapi Pandemi Covid-19.

“Dalam rapat (rapat penanganan Covid-19 Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) kami dengan tegas meminta penambangan liar itu ditutup. Kami sudah meminta bapak Pangdam dan Kapolda pastikan penambangan liar tersebut ditutup,” jelas Wagub menginteraksi pertanyaan wartawan.

Rapat Penanganan Covid-19 Wagub dengan Forkompinda Papua.

Diakui Wagub, beberapa pekan terakhir jumlah kasus Covid-19 di daerah Selatan Papua meningkat, tepatnya di Kabupaten Boven Digoel. Data terbaru penyebaran baru yang dirilis Satuan Gugus Pengendalian, Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, Sabtu 06 Juni 2020 menyebutkan kasus positif di Kabupaten Boven Digoel mencapai 14 Kasus, 8 orang di rawat dan 6 orang dinyatakan sembuh. Sedangkan jumlah Orang Dengan Pemantauan (ODP)sebanyak 46 orang.

“Memang daerah selatan ini belakangan meningkat tepatnya di Boven Digoel. Setelah kita lihat lebih rinci penyebarannya di daerah pertambangan liar. Makanya dalam rapat Kami sudah tegas, bahwa penambangan liar itu harus ditutup,”kata Klemen Tinal.

Wagub yang akrab disapa KT itu bilang sebagian besar para penambang di Boven Digoel dan sekitarnya berasal dari luar Papua. Mereka masuk masuk dari Merauke kemudian ke Boven Digoel. Bila area pertambangan liar tidak ditutup maka dikuatirkan para penambang yang terinfeksi dapat menularkan virus ini ke masyarakat lokal di sekitar tambang termasuk ke Kabupaten Pegunungan Bintang, Asmat dan Yahukimo karena wilayah penambangan berada di kabupaten-kabupaten tersebut.

“Para penambang liar ini bukan orang asli Boven Digoel itu sendiri. Datang dari luar lewat merauke masuk berinteraksi, menambang liar dan akhirnya menyebarkan virus ini. Kita khwatir para penambang yang yang terifeksi virus ini menyebar sampai ke Pegunungan Bintang, Yahukimo hingga Asmat, Makanya penambangan liar ini harus ditutup,”tegasnya.

Dia menambahkan bahwa meskipun ada koperasi yang menjadi wadah bagi para penambang ini untuk melakukan aktivitas namun Pemerintah Provinsi tidak akan mentolerir aktivitas penambangan karena tidak ada ijin dan liar.”Mereka bilang ada koperasi (wadah penambangan liar). Tapi yang namanya penambangan liar tetap illegal. Makanya harus ditutup,”tandasnya.

Sebelumnya, Bupati Kabupaten Asmat, Elisa Kambu dan Wakil Bupati Boven Digoel, Chaerul Anwar meminta Pemerintah Provinsi Papua menutup semua penambangan liar yang berada di sekitar Kabupaten Boven Digoel, Pegunungan Bintang, dan Asmat. Pasalnya, sebagian besar para penambang terpapar kasus Covid-19.

Para bupati di wilayah ini, Bupati Merauke, Boven Digoel, Asmat dan Pegunungan Bintang telah menyepakati menggelar rapid test secara massif kepada penambang di wilayah masing-masing.

Editor: HANS BISAY