oleh

Kota Jayapura dan Merauke Deflasi

JAYAPURA- Badan Pusat Statistik (BPS) Papua merilis dua kota di Papua yakni Kota Jayapura dan Me-rauke pada September 2017 mengalami deflasi sebesar 0,64 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) masing-masing sebesar 129,04 dan sebesar 131,51. Kota Jayapura menempati urutan ke-78 di tingkat nasional dan urutan ke-16 di tingkat Sulampua (Sulawesi, Maluku dan Papua). Sedangkan Me-rauke menempati urutan ke-77 di tingkat nasional dan urutan ke-15 di tingkat Sulawesi Maluku dan Papua (Sulampua).
Kepala BPS Papua, Drs. Simon Sapary,M.Sc dalam keterangan persnya, Senin (02/10/2017) menga-takan Deflasi di Kota Jayapura pada September 2017 terjadi pada enam kelompok pengeluaran. Deflasi tertinggi pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 2,06 persen dan defllasi terendah pada kelompok makanan jadi, minuman rokok dan tembakau yaitu sebesar 0,01 persen. Kelompok penge-luaran yang mengalami inflasi yaitu kelompok sandang sebesar 0,49 persen.
Sedangkan Deflasi di Merauke terjadi karena adanya deflasi pada kelompok bahan makanan sebesar 2,80 persen. Inflasi terjadi pada lima kelompok pengeluaran dengan nilai inflasi tertinggi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,66 persen dan inflasi terendah pada ke-lompok perumahan, air , listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,25 persen, sedangkan kelompok pen-didikan , rekreasi, dan olah raga tidak mengalami perubahan angka indeks.
“Dari 82 kota IHK tercatat 50 kota mengalami inflasi dan 32 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 1,59 persen dan inflasi terendah di Depok dan Mamuju sebesar 0,01 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar -1,04 persen dan deflasi terendah terjadi di Tembilahan sebesar 0,01 persen,”ungkap Simon di Kantor BPS Papua.
Lebih lanjut dikemukakannya, faktor pendorong terjadinya deflasi di Kota Jayapura bulan September 2017 adalah penurunan harga yang cukup signifikan pada beberapa komoditi antara lain ekor kuning, cabai rawit, angkutan udara, mujair, cakalang, bawang merah, bawang putih, cabai merah, wortel lain-lain. Beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga antara lain: daging sapi, celana pendek, telur ayam ras, kangkung, teri, tomat sayur sawi hijau dan lain-lain.
Sedangkan faktor pendorong terjadinya deflasi di Merauke bulan September 2017 adalah penurunan harga yang cukup signifikan pada beberapa komoditi antara lain mujair bayam, kangkung, kacangpan-jang, bawang merah, bawang putih,daun kemangi, daging sapi dan lain-lain. Beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga antara lain rokok kretek filter, telur ayam ras, daun singkong, paku, seng, cabai merah, garam, rokok putih, emas perhiasan dan lain-lain.

BACA JUGA  Rektor Uncen Masuk Anggota Tim PPHAM

Editor: SONNY RUMAINUM

Komentar