oleh

LMA Port Numbay Apresiasi Gebrakan Plt. Direktur RSUD Jayapura

JAYAPURA (PTIMES)- Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay George Awi mengapresiasi dan mendukung penuh sejumlah gebrakan pembangunan yang dilakukan Plt. Direktur RSUD Jayapura, drg. Aloysius Giyai, M.Kes untuk memajukan rumah sakit itu. Menurutnya, ada suatu langkah berani dan positif dimana RSUD Jayapura membuka diri kepada masyarakat untuk melihat rencana pembangunan yang sedang dan akan dilakukan.

“Selama ini faktanya rumah sakit ini sangat tertutup. Apalagi rumah sakit ini pelayanan sudah kita tahu, paling jelek. Semua masyarakat di kota ini mengeluh. Suster-suster, mantra-matri tak pernah senyum. Mereka bikin diri paling hebat. Dengan sosialisasi dan pertemuan seperti ini, masyarakat, tokoh adat agama dan stakeholder jadi tahu, dan bisa memberi masukan demi perubahan,” kata George Awi usai mengikuti Sosialisasi dan Advokasi Perubahan Paradigma Pelayanan RSUD Jayapura Melalui Akreditasi SNARS Edisi I Menuju Rumah Sakit Bermutu dan Menjamin Keselamatan Pasien di Aula RSUD Jayapura, Kamis (28/11/2019).

Menurut Awi, RSUD Jayapura di masa Pemerintahan Hindia Belanda pernah menjadi rumah sakit terbaik di kawasan Pasifik. Seluruh areal rumah sakit tampah hijau dengan rumput dan pepohonan. Kini kondisi ini berubah drastis. Lingkungan tampak sesak dengan bangunan dan berdebu. Kumuh. Tak ada pohon-pohon dan taman.

“Saya selama ini jarang ke rumah sakit ini karena kotor. Tapi sekarang di masa dr Alo ini luar biasa, ada perubahan besar. Lingkungan mulai ditata. Anak Alo ini seorang pemimpin yang bekerja dengan hati. Banyak orang pintar tapi kalau kerja tidak dengan hati, tidak akan tanggung jawab,” tegas Awi.

Awi mengetakan, sangat penting karakter dan jiwa pelayanan di rumah sakit berlandas pada kasih. Sebab apalah guna membangun gedung yang megah dan mewah sementara paradigma pelayanan lama tidak berubah?

“Para dokter, perawat, mantra harus punya attitude yang baik dalam melayani. Harus seperti para suster di zaman Belanda dulu. Ramah dan murah senyum supaya ketika orang sakit datang, mereka punya harapan sembuh besar,” katanya.

Oleh karena itu, Awi mengaku sangat mendukung Plt Direktur RSUD Jayapura yang menata lingkungan, mengubah karakter pelayanan dan membangun sarana prasarana. Hanya saja, ia mengharapkan agar identitas Papua ada terpampang pada arsitektur pembangunan gedung rumah sakit itu. Sebab dari presentasi Plt. Direktur tentang masterplan pengembangan rumah sakit, kata Awi, ciri khas Papua pada bangunan yang akan dirancang itu belum ada.

“Kami mengharapkan supaya Pemerintah Pusat melalui Menteri Kesehatan harus membangu pendanaan. Demikian juga Pemprov Papua. Sebab kesehatan ini investasi yang mahal tapi sangat vital bagi peradaban bangsa,” tegas Awi.

Menurut sejarah, RSUD Jayapura dibangun tahun 1956 oleh Pemerintah Hindia Belanda di kampung Nica (Kampung Harapan). Awalnya, jumlah bangunan hanya 25 unit berdiri di atas lahan seluas 35 hektar demgan sarana 1 kamar jenazah, 2 asrama pendidikan, 2 asrama pegawai. Saat ini, RSUD Jayapura menjadi rumah sakit rujukan tertinggi di Provinsi Papua menyandang status Type B Pendidikan.

Editor: GUSTY MR

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed